“ Standarisasi Hati Terkini “
Catatan : Harmen
Semua kini zaman now. Trend kekinian terlihat sudah menjalar dalam beragam aspek. Ini salah satu dampak kemajuan tekhnologi, semua aktivitas berada di genggaman. Semua seakan bisa terselesaikan di genggaman lewat ponsel berbasis android atau sejenisnya.
Itu kekinian efek tekhnologi canggih yang “sukses” mengesampingkan beragam kaidah yang selama ini jadi “suluah” utama masyarakat dalam beragam aspek.
Dampak “dunia dalam genggaman”terasa, tak hanya membenamkan jauh-jauh silaturrahmi antar sesama, juga raso jo pareso yang terkesampingkan, bahkan aksi penghakiman tanpa konfirmasi dan crosscek menjadi trend penyesuai terhadap apa yang tersaji di genggaman.
Resikonya, kita tentu bisa menebak. Akan banyak berguguran fakta dan aktualitas persoalan. Yang ada, masuk informasi, dibumbui bisik-bisik dan sakit hati, terbitlah penghakiman tanpa koreksi apalagi konfirmasi. Apalagi jika suasana hati sedang tidak nyaman, akan muncul saja pemberangusan yang hasilnya justru mengundang pro-kontra.
Tapi itulah faktanya. Ditahun 2017 lalu, cukup banyak yang aneh terjadi di daerah ini. Tapi banyak juga yang bertafsir sendiri, ada “sesuatu” yang besar dibalik itu semua. Sebagian menyebut serangkaian hikmah atas sesuatu.
Penafsiran lain, juga menyaru bahwa apa yang terjadi sesungguhnya dampak dari “dunia dalam genggaman” itu tadi. Ego pemilik android, termasuk penulis, yang bisa seenaknya mengutak-atik aplikasi, tanpa memandang ada sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang alfa bahkan mungkin ada sesuatu yang terabaikan, sehingga semua bisa disuguhnya sesuai dengan keinginan. Alangkah luar biasanya pengaruh perkembangan tekhnologi.
Namun, akankah ini selalu akan menjadi acuan. Karena tidak semua, “dunia dalam genggaman” akan sepenuhnya benar, akan sepenuhnya seperti harap banyak pihak, karena mestinya apa yang terjadi, setidaknya bisa mengakomodir rasa dan empati yang mengemuka bahkan mungkin, setidaknya menjembatani tanda tanya panjang yang entah siapa dan kapan bisa dijawab. Karena semua merasa punya dan memiliki cakrawala ini, tapi jika dengan dalih “dunia dalam genggaman”.
Tapi begitulah adanya, karena terkadang, kebijakan bermuara pada tindakan, justru terkadang berpola pada standarisasi hati terkini, karena terkadang apa yang terucapkan justru ditengah gemuruh suasana hati, dibumbui cuaca, bahkan “speedometer” yang terkadang naik turun karena kolesterol.- (***)
Tidak ada komentar: